Dahulu, santri
kirim surat ke orangtuanya sopan sekali. Pakai rangkaian kata-kata penuh doa,
harapan, tetapi buntutnya tetap minta kiriman uang juga. Nah, yang jadi masalah
itu mereka menuliskannya memakai huruf Arab Pegon. Bahasa Jawa tetapi ditulis
dengan huruf Arab. Padahal tidak mudah menuangkan bahasa Jawa ke dalam bentuk
tulisan Arab, karena akan membutuhkan banyak huruf-huruf vokal serta
tanda-tanda baca yang rumit. Dan ini dialami seorang santri.
Dia menulis
dalam suratnya beberapa daftar permintaan. Uang sekian rupiah, buku atau kitab
ini dan itu. Beberapa barang-barang lainnya termasuk yang dia tulis adalah kata
Anduk. Maksud dia adalah Handuk. Dia tulis: “Ampun kesupen, Bapak. Dalem inggih
nyuwun dipun kirimi anduk setunggal.” Masalahnya dia menulisnya alif, nun, dal,
wawu dan kaf ; أندوك (Anduk).
Saat bapaknya
datang membawakan kirimannya itu, si teman ini terlihat kebingungan
mencari-cari sesuatu tetapi tidak ada. Yang dia dapati adalah satu butir telur,
yang dalam bahasa Jawa disebut “endok”. Eh alaah, ternyata si bapak
membaca tulisan alif, nun, dal, wawu dan kaf; أندوك
dengan kata Endok, bukannya Anduk.
(Gus Muhajir )
No comments:
Post a Comment