1.1
Dalil-dalil
2.2.1.
Dalil kaidah fiqih
الضَّرَرُ
يُزَالُ
Artinya: kemudaratan (kerusakan) itu harus dihilangkan.
تَصَرُّ
فُ الْإِمَامِ عَلَي الرَّ عِيَةِ مَنُوْطٌ بِا
لْمَصْلَحَةِ
Artinya: kebijaksanaan imam atau kepala
negara terhadap rakyat itu harus dihubungkan dengan kemaslahatan.
2.2.2.
Dalil
hadits
عن عمرو بن يحي عن أبيه قال صلى الله عليه
وسلم لَا ضَرَرَ
وَلَا ضِرَارَ (رواه مالك وابن ماجه والحاكم والبيهقي والدارقطنى.حديث حسن)
Artinya: Dari amr bin yahya dari bapaknya Rasullullah SAW. Bersabda, Tidak boleh
melakukan tindakan baik yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, dan
tidak boleh membalas tindakan yang membahayakan pada orang lain. (H.R. Malik,
Ibn Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, Ad-Daruqutni. Hadist Hasan)[1]
عَنْ
سَعِيْدٍ بْنِ زَيْدٍ,اَنَّ رَسُوْلَ اللهُ قَالَ:مَنِ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنَ
اْلأَرْضِ ظُلْمًا طَوَّ قَهُ الله إِيَاهُ يَوْمَ اْلقِيَا مَةِ مِنْ سَبْعِ
اَرْضِيْنَ :مُتَفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: Dari
Said bin Zaid, bahwasannya Rasulallah bersabda: Barangsiapa mngambil sejengkal
tanah (orang lain) dengan zalim, maka pada hari kiamat kelak, Allah akan
mengalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi. Muttafaq alaih [2]
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبى صلى
الله عليه وسلم فِيْمَا يُرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ، قَالَ: يَا عِبَادِي إِنِّيْ
حَرَّمْتُ الظُّلْمَ على نَفْسِيْ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا ،
فَلَاتَظَالَمُوا. أخرجه مسلم
Artinya: “Dari
Abu Dzar RA dari nabi SAW. riwayat dari Tuhannya, Dia (Allah) berfirman: Wahai
hamba-hambaku, sesungguhnya aku mengharamkan diriku berbuat zalim (aniaya) dan
aku haramkan pula terjadi di antara kamu. Oleh karena itu, jangan saling
menganiaya. (H.R. Imam Muslim).[3]
2.2.3.
Dalil
fiqih
لَوْ
عَلِمَ اْلإِمَامُ قَوْ مًا يُخِيْفُوْنَ الطَّرِيْقَ وَلَمْ يَأْخُذُوْامَالاً وَلاَ
قَتَلُوْا نَفْسًا,عَزْرَهُمْ
وُجُوبًا بِحَسْبٍ وَغَيْرِهِ.
Artinya: Jika
imam mengetahui ada suatu kaum yang
membuat resah atau membuat khawatir
pengguna jalan sekalipun mereka tidak mencuri harta dan tidak membunuh
seseorang. Maka, imam wajib memberikan takzir bagi mereka dengan dipenjara atau
dengan hukuman lainnya.”[4]
2.2.4.
Dalil
Al-Qur’an
وَلاَ
تَبْغِ الْفَسَادَ فِى اْلأَرْضِ اِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُ اْلمُفْسِدِيْنَ
Artinya:
Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak senang
kepada orang –orang yang membuat kerusakan (Q.S. Al-Qasas:77).
[5]
يَأَ يُّهَاالَّذِيْنَ أَ مَنُوْأَطِيْعُوْااللهَ
وَأَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَأْوْلِى اْلأ َمْرِ مِنْكُمْ
Artinya : Hai orang orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atillah Rasull
(Nya), dan ulil amri diantara kamu(Q.S. AN-Nisa’:59)[6]
4.1
Kesimpulan
Hukum
parkir liar di tepi jalan menurut kaidah fiqhiyyah adalah tidak boleh (haram),
karena banyak mudarat atau kerusakan yang ditimbulkannya. Mudarat yang
ditimbulkan berupa kemacetan lalu lintas, keamanan yang tidak terjamin,
pengguna jalan yang merasa resah dan kurang nyaman. Demikian itu, menjadi illat
keharaman pada dalil kaidah fiqhiyyah, dalil nash, dan dalil ijma’.
Hukum parkir
di tepi jalan di
perbolehkan dalam artian sudah di atur oleh pemerintah daerah
(resmi). Demikian
itu yang menjadi alasan pada dalil kaidah fiqhiyyah, dan dalil nash.
[1] M.
Hamim, Ahmad Muntoha . Pengantar Kaidah Fiqh Syafi’iyah
Penjelasan Nadhom Al-Fara’id Al-bahiyah(Kediri; Lirboyo Press, 2013), Hal.
88.
[3] Al hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani.
H.M. Ali. Terjemah Bulughul Maram, (Surabaya; Mutiara Ilmu, 2011), hal.
688.
[5]Kementrian Agama RI, Direktorat Jendral Bimbingan
Masyarakat Islam. Al-qur’an dan terjemahnya (PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012)hal.556.
No comments:
Post a Comment